Tampilkan postingan dengan label poetry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poetry. Tampilkan semua postingan

5.5.07

bidadari kecil(ku)

pantaskah kusebut engkau bidadari kecilku ??
saat tak ada yg bisa kulakukan selain menangis ?
layakkah kupanggil engkau gadis kecilku ??
saat tak ada yg mampu kulakukan selain menyematkan deritamu di helaian kuntum doaku ?

diantara puing-puing
lukamu bercerita tentang perang
desing peluru diatas kepalamu terbang
bahkan ada yang di lenganmu ia bersarang

dari sela reruntuhan dan debu
tetes darahmu sampaikan pesan
sejuta mimpi dalam tidurmu berserakan
meski kepada mereka perdamaian kau percayakan

memang aku tak punya keberanian
untuk sekedar menghapus air matamu
benar akulah pengecut itu
yang bersembunyi di balik pembenaran

... berjuta alasan
hanya memperjelas ketidakmampuanku berbuat apa-apa

... tapi izinkanlah ...
aku tetap menyebutmu bidadari kecilku
aku tetap sematkan deritamu dalam helaian kuntum doaku
aku mengunjungimu dengan segenap kelemahanku
dimanapun dan kemanapun engkau terbang dengan sayap mungil itu

ke Kosovo, Nigeria, Ghana, Poso, Bantul, Pangandaran, Aceh, Thailand, Somalia, Palestina bahkan hingga ke Libanon

( 31.07.06 )

23.4.07

... dinda ...

adakah cinta akan membiarkanmu didekap kesalahan

... dinda ?

adakah cinta terlarang untuk sekedar menghukum

... dinda ?


kalau aku membiarkanmu saat engkau didekap kesalahan

kalau aku diam saja dan membisu melihatmu tergelincir

... dinda

maka bukanlah itu cinta , melainkan babi buta ..

cinta memintaku dengan tangisan

untuk mengingatkanmu saat kabut kesalahan mendatangimu

walau hasilnya engkau akan meninggalkanku ...

cintaku kepadamu ... dinda

datang bersama derita mereka di gubuk yang terpinggirkan

hadir bersama simpanan duka dibalik wajah para pelacur yang meluncur, para pemulung yang kurang beruntung, pengemis yang selalu menangis, air bah yang menjadi musibah, longsor yang silih berganti, lapar yang kadang membuatku terkapar, air mata dan darah dari kejujuran yang terpinggirkan, dibungkus di kotak-kotak kaca bertahtakan berlian, di dalam brankas-brankas di istanamu ... dinda

masih ada seberkas cahaya dinda, yang akan menuntunmu ...

mengantarkanmu ke telaga rindu membasuh sakitmu dengan wudhu sejarah

dan mensimpuhkanmu di hamparan sajadah perjalanan

inna lillahi wa inna ilaihi raji'un

luka puisiku duka

luka puisiku duka
ditelan air mata anak-anak itu
membesar perutnya kering tangisnya
getar jiwanya tak gentar gentar

luka puisiku duka
berdarah-darah di bangsal-bangsal
terbaring lemah sayu harapnya
menetes satu-satu di selang infus

luka puisiku duka
menghitung naza' terjulur lidahnya
didekap candu bernama sekolah


ah ... mimpiku terbang
membawa luka puisiku duka
meninggalkan nisan tanpa nama
mewariskan jejak tanpa kata

luka puisiku duka
berayun-ayun bersama getarnya
di setengah tiang bendera yang juga luka dukanya

(16.08.05)

: dihempas

: dihempas lagi ...

siluet menghempas cahaya

mencabik tirai-tirainya

berserak mimpi-mimpinya


: dihempas lagi ...

ketika logika tak berdaya

ditelan arus banjir raya

musnah kesombongannya


Indonesia ini sedang berdarah ...

meski tak bisa kau lihat darahnya

meski tak dapat kau baui anyirnya

meski tak terjangkau itu deritanya