Mungkin ketidaktahuan akan kesalahan-kesalahanku itulah yang menyebabkan aku pantas menerima hukuman seberat ini
29.5.07
Hukuman
23.4.07
Sehabis Hujan
Tanah pekuburan di tepian sungai yang damai itu
Sehabis hujan malam itu
Kehilangan separuh penghuninya
Yang memilih berlayar di aliran sungai
Teori Relativitas
Maka satu hal yang sudah pasti dan sudah tentu, adalah: bahwa segala apa yang kuomongkan dan kutulis itu pasti dan tentu belum pasti dan belum tentu benar!
5.3.07
malam itu
sudah, kekasih ... aku sudah bersiap mengunjungi malam itu, malam dimana kesunyianku dan kehadiranmu menemukan titik temu dalam persilangan ruang dan waktu.
jenuh jiwaku, kekasih ... jiwaku terseret gelombang yang tak tentu arah, mengikuti arus samudera yang dibendung oleh sebuah madzhab bernama pemanasan global. jiwaku begitu lelah, dan terkulai lemah, terapung tanpa daya, hanya mampu mengaitkan diri pada batang kayu pembalakan liar yang dibawa banjir bandang. menghantam dinding rumah itu jiwaku ! berderak suara patahnya kolom rumah menjalin simfoni dengan patahnya tulang penghuninya.
jiwaku mabuk dalam aroma kloroform yang dihembuskan globalisasi, penyamarataan. dibutakan ia oleh wangi parfum demokrasi, dan dalam ketidaksadarannya, jiwaku pasrah diguncang gempa, menelusup ia ke dalam retakan-retakan bumi, mencari jalan bersama awan panas maupun aliran lumpur panas. jiwaku mencari, ya kekasih ... mencari jalan meski harus tanpa tangisan ia membanjiri sawah dan lereng gunung.
ketika jiwaku mengerang, kembali ia diseret menjadi deretan angka-angka. 0,1,5,7,2,6,3 .... oh, harus berapa digit ia mengikuti nafsu bejat biaya sekolah yang makin mahal. harus berapa digit ia merelakan dirinya menuruti nafsu biadab biaya kesehatan yang kian tak terjangkau. harus berapa digit ia menjerit berkompromi dengan harga-harga konsumerisme dan hedonis ??
jiwaku ditawan oleh keinginanku
jiwaku terbelenggu dalam anggapan dan asumsi
jiwaku dipasung di ujung tudingan dan opini publik
jiwaku dipenjarakan oleh tulisan di koran dan majalah, oleh liputan di televisi dan radio
sudah kekasih .... rasa rinduku padamu membawaku mengunjungi malam itu, malam dimana kesunyianku dan kehadiranmu mengajarkanku tentang betapa jelasnya kesunyian itu ternyata.
gerimis
harus kuhampiri dunia ... sebab aku harus lebih besar dari dunia. dunia harus tak ada artinya, karena hanyalah aku yang berarti. bahwa sombong merupakan akibat darinya, harus aku akui. sebab kepada dunia, haruslah aku sombong. sekali lagi, karena dunia haruslah barang remeh.
harus kutemani dunia, bukan untuk menjadi sahabatnya, juga bukan menjadi musuhnya. dunia terlalu remeh untuk kujadikan sahabat, musuh, atau bahkan kekasih. tidak ! dunia terlalu remeh.
harus kusambut datangnya gerimis, sebab dunia di dalam genggamanku ini sudah penuh lumpur, terhijab fitrah dan kesuciannya oleh pemikiran yang tak tentu arah. oleh fantasi dan imajinasi yang kutabur diatasnya. oleh angan-angan kosong yang kusemaikan di tanahnya.
datanglah gerimis, dan basuhlah dunia di genggamanku, jadikanlah ia kemilau dan akan kubawa ia mengitari pusat segala semesta...
rain
"thanks for taking me here", said the rain to the cloud.
there's nothing the cloud do to answer it, but smile .... and the clouds left the rain watering all it can sweep away. the sadness, the happiness, all the miseries, and sometimes all the memories we all want to forget.
"no," the rain said. "i dont want to sweep away everything", and she begins to cry. "all i want to do is just saying hello to my best friend, mother nature. your mother nature has wounded, she cries for always, but she has no more tears. she is naked, and she got burned. i'm just saying hello, that's all"