test from Post2Blog
test from Post2Blog
membaca peristiwa - melihat suara - mendengarkan sunyi senyap
Salah satu sebab dagelan bencana alam maupun bencana non alam yang selama ini kita alami, mungkin adalah karena yang kita pentaskan sehari-hari adalah dagelan-dagelan yang begitu pekok-nya
dikirim oleh
a c a n g
pada jam
06:07
0
comments
Labels: just write, quote
Mungkin ketidaktahuan akan kesalahan-kesalahanku itulah yang menyebabkan aku pantas menerima hukuman seberat ini
dikirim oleh
a c a n g
pada jam
06:02
0
comments
Labels: just write, quote
pantaskah kusebut engkau bidadari kecilku ??
saat tak ada yg bisa kulakukan selain menangis ?
layakkah kupanggil engkau gadis kecilku ??
saat tak ada yg mampu kulakukan selain menyematkan deritamu di helaian kuntum doaku ?
diantara puing-puing
lukamu bercerita tentang perang
desing peluru diatas kepalamu terbang
bahkan ada yang di lenganmu ia bersarang
dari sela reruntuhan dan debu
tetes darahmu sampaikan pesan
sejuta mimpi dalam tidurmu berserakan
meski kepada mereka perdamaian kau percayakan
memang aku tak punya keberanian
untuk sekedar menghapus air matamu
benar akulah pengecut itu
yang bersembunyi di balik pembenaran
... berjuta alasan
hanya memperjelas ketidakmampuanku berbuat apa-apa
... tapi izinkanlah ...
aku tetap menyebutmu bidadari kecilku
aku tetap sematkan deritamu dalam helaian kuntum doaku
aku mengunjungimu dengan segenap kelemahanku
dimanapun dan kemanapun engkau terbang dengan sayap mungil itu
ke Kosovo, Nigeria, Ghana, Poso, Bantul, Pangandaran, Aceh, Thailand, Somalia, Palestina bahkan hingga ke Libanon
( 31.07.06 )
dikirim oleh
a c a n g
pada jam
08:57
0
comments
Mungkin tak bisa aku mendatangi Ibu, karena jauhnya jarak. Ya jarak geografis, ya jarak kosmologis kasih sayang dan cinta. Bukankah dari gejala ini lahir peribahasa kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah ? Maaf kalo susunan peribahasanya kurang tepat jar, sebab memang kata-kata dan istilah sering silang sengkarut dalam prosesor di otakku, seperti saat aku ingin bicara dengan bule, ternyata “kamus” di otakku tidak bisa kompak dengan lidah ... maka meluncurlah kata-kata serampangan dan lebih bernada sok tahu.
Tapi di “kejauhan” dengan Ibu itulah jar, aku bisa berteriak dengan bahasa senyap yang tak membutuhkan kata-kata, huruf-huruf, alfabet-alfabet.
Ternyata di “kejauhan” dengan Ibu seperti saat-saat inilah jar, bahasaku benar-benar telanjang dan jujur.
Lecutlah aku lagi, Ibu. Bentaklah kebengalan anakmu ini, Ibu. Hardiklah kepongahan anakmu ini, Ibu.
Lecutlah aku lagi, Ibu. Bentaklah kebengalan anakmu ini, Ibu. Hardiklah kepongahan anakmu ini, Ibu.
Lecutlah aku lagi, Ibu. Bentaklah kebengalan anakmu ini, Ibu. Hardiklah kepongahan anakmu ini, Ibu.
Rasa rindu ini mengundang lecutan, bentakan, hardikan, atau tamparan itu, Ibu. Rasa jauh ini mendekatkanku untuk bersimpuh mencium lututmu.
Sampaikanlah jar, karena bahasaku ini senyap.
dikirim oleh
a c a n g
pada jam
08:52
0
comments
Alangkah menyenangkan jar, membicarakan manusia semacam ini.
Sekaligus misterius, juga membingungkan ... alangkah menggairahkan kita menyelami rahasia semacam ini. Seolah-olah dalam sebuah ciptaan bernama manusia ini, Tuhan menitipkan sebuah pertanyaan, yang mungkin juga pertanyaan itu adalah jawabannya. Inna ma’al ‘usri yusran. Bahwa setiap masalah datangnya satu paket dengan jalan keluarnya. Pertanyaan -yang terserah kita juga sih, bersedia menjawabnya, atau hanya sekedar mempergilirkan pertanyaan ini dari masa ke masa. Seperti para koruptor yang bergiliran menghabiskan uang kita dan uang negara itu kan jar.
Usia kita adalah tiket antrian untuk menyetor jawaban ini. Tidak di hadapan siapa-siapa atau untuk siapa-siapa. Kita hidangkan berbagai menu jawaban ini di hadapan jiwa kita. Untuk berbagai alasan. Mungkin karena kehausan, kelaparan, keinginan, kebutuhan, atau –rodo ndakik- tujuan filosofis kita.
Waduh, makin bingung saja aku ... Dan kalau aku sudah kebingungan semacam ini, biasanya Ibu datang dengan sebatang lidi, melecutkannya di kebingunganku, dengan ruh cinta dan kasih, membangunkan aku, mengembalikan aku pada kesadaran. Pada rasa sakit yang manusiawi. Dan bukankah rasa sakit –seperti lecutan batang lidi Ibu itu- itulah yang mungkin kita butuhkan saat ini untuk kembali menyadari manusia dan nilai kemanusiaan itu, jar ? Tentunya lecutan yang juga dialiri ruh cinta dan kasih, bukan dendam dan iri hati.
dikirim oleh
a c a n g
pada jam
08:45
0
comments
Tanah pekuburan di tepian sungai yang damai itu
Sehabis hujan malam itu
Kehilangan separuh penghuninya
Yang memilih berlayar di aliran sungai
dikirim oleh
a c a n g
pada jam
08:07
0
comments
Labels: just write, quote